sebuah Cerpen Reda Gaudiamo

——-

1978

“Berapa?”

 

“Lima setengah.”

 

“Lima?”

 

“Lima setengah, Bu.”

 

“Lima setengah ya lima!”

 

“Tapi bisa jadi enam, Bu.”

 

“Siapa bilang? Kalau lima koma delapan atau sembilan bisa dibulatkan ke atas. Tapi

lima setengah, tetap lima! Lima!”

 

“…”

 

“Ulangan yang lalu, empat. Sekarang lima setengah. Berapa angka matematikamu di

raport nanti? Mengkhawatirkan sekali ini!”

 

“…”

 

“Ibu sedih. Karena Ibu tahu, sebetulnya kamu bisa dapat lebih dari ini. Delapan,

sembilan, juga bisa! Masalahnya cuma satu: kamu malas belajar. Kalau tidak dikejar-

kejar, dimarahi, tidak belajar!”

 

“…”

 

 

 

“Jaman sekolah dulu, nilai berhitung Ibu tidak pernah kurang dari delapan. Ibu tidak

minta kamu dapat delapan. Tujuh saja sudah cukup. Tidak lebih. Ini buat kebaikan

kamu! Heran, apa susahnya dapat tujuh? Apa?”

 

“…”

 

1983

 

“Aku mau masuk bahasa, Bu.”

 

“Bahasa? Bahasa apa?”

 

“Jurusan Bahasa.”

 

“Ooh, itu. Lho, bagusnya kan IPA?”

 

“Ibu Kepala Sekolah bilang aku lebih cocok masuk bahasa.”

 

“Dia bilang begitu? Ah, tahu apa dia tentang kamu.”

 

“Tapi itu cocok sama hasil tes IQ, Bu.”

 

“Ah, tes IQ kan buatan manusia. Tidak mutlak benar hasilnya! Aku, ibumu, tahu sekali

kalau kamu sangat berbakat untuk IPA. Kamu kan suka percobaan kimia, membedah

kodok, burung dara… Kamu bisa jadi dokter, insinyur, dokter hewan, semuanya!”

 

“Tapi, Bu…”

 

“Nanti Ibu ketemu Kepala Sekolahmu. Ibu akan bilang kalau kamu bisa masuk IPA.”

 

“Tapi …”

 

“Jurusan bahasa tidak jelek. Tapi tidak masuk hitungan. Sayang otakmu yang bagus.

Tersia-sia nanti dengan pelajaran yang remeh-remeh. Usaha sedikit saja kamu pasti

bisa! Besok kita datang menghadap. Kamu masuk IPA.”

 

“Bu, tapi …”

 

“Tidak ada tapi-tapian. Ibu yakin kamu bisa. Kamu cuma malas. Terlalu banyak main,

mengobrol tak berguna di telepon!”

 

“…”

 

“Ibu tidak minta macam-macam. Ibu cuma ingin di rumah kita nanti ada dokter. Kamu.

Itu saja. Heran, apa susahnya masuk IPA? Apa?”

 

“…”

 

1994

 

“Bu, aku akan buka klinik bersama teman-teman!”

 

 

 

“Puji syukur!”

 

“Ibu jadi penasehatnya, ya?”

 

“Tentu! Kapan? Di mana klinikmu buka?”

 

“Nanti, Bu. Masih lama. Mungkin akhir tahun baru jadi.”

 

“Ooh, praktek bersama? Mungkin bisa di rumah kita. Pakai paviliun samping saja!”

 

“Kami tidak mau di rumah, Bu.”

 

“Lalu, di mana? Gedung perkantoran? Bagus juga itu! Bergengsi sekali!”

 

“Tidak juga.”

 

“Di mana? Di mana?”

 

“Di perkampungan nelayan. Tempat aku dulu kerja praktek.”

 

“Tobat!”

 

“Kenapa, Bu?”

 

“Jadi bukan klinik spesialis?”

 

“Klinik spesialis juga.”

 

“Tapi di…”

 

“Ya di kampung nelayan itu. Kenapa, Bu?”

 

“Tobat! Tobat!”

 

“Ibu tidak setuju?”

 

“Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau mendarat di kampung nelayan? Kapan kayanya

kamu?”

 

“Kaya?”

 

“Ya, kaya. Banyak duit! Hidup senang! Seperti Pakde-mu itu! Dokter spesialis kulit,

langganannya ibu-ibu cantik dan kuaya ruaya!”

 

“Aku tidak suka yang model begitu, Bu.”

 

“Kamu itu kenapa ya, kok bisa-bisanya mirip dengan bapakmu yang sok sosial itu.

Begitu sial betulan, teriak-teriak. Minta tolong sama Ibu!”

 

“Dulu, Ibu bilang di rumah ini harus ada dokter. Sekarang aku sudah jadi dokter, mau

mengabdikan ilmu, Ibu larang…”

 

 

 

“Pintar omong kamu. Kalau tahu bakal selancar ini omonganmu, lebih baik aku biarkan

kamu di rumah. Buta huruf. Tidak usah sekolah. Tidak usah jadi dokter. Buang uang.

Buang waktu. Percuma.”

 

“…”

 

“Ibu tahu kamu sudah besar, mau mengatur hidup sendiri. Tapi kamu musti percaya

sama Ibu. Aku ini tahu apa yang kamu perlukan. Dan yang kamu perlukan bukan buka

klinik di kampung nelayan!”

 

“…”

 

“Ibu hanya ingin kamu bahagia.”

 

“…”

 

“Supaya bahagia, dengarkan ibu. Kamu kan tahu Ibu tidak minta macam-macam. Ibu

cuma tidak ingin kamu praktek di kampung itu. Sayang betul, sudah sekolah mahal-

mahal, lama-lama, eh ternyata cuma buat mengobati orang-orang yang tidak bisa

bayar kamu. Sayang! Bukalah praktek yang normal, yang beres, yang menghasilkan.

Seperti dokter-dokter lain itu, lho. Sudah. Tidak macam-macam. Apa susahnya? Tidak

ada! Malah bisa bahagia kamu nanti! Banyak uang!”

 

1999

 

“Anaknya Bu Sis kawin minggu depan.”

 

“Anak yang mana lagi?”

 

“Yang paling kecil!”

 

“Si Sri?”

 

“Ya.”

 

“Ampun! Umurnya paling baru berapa…”

 

“Eh, jangan ampun-ampun! Umurmu sendiri, berapa? Tahun ini sudah tiga puluh. Yani,

anaknya Bu Sis yang paling besar, yang setahun lebih muda dari kamu, sudah tiga

anaknya. Kamu? Punya pacar saja belum!”

 

“Nantilah, Bu.”

 

“Nanti kapan? Tiap kali ditanya, nanti-nanti-nanti. Mau tunggu ibumu ini bersatu

dengan tanah?”

 

“Ibu!”

 

“Ibu capek menunggu kamu yang keasyikan kerja! Pasienmu itu kan cuma perempuan-

perempuan yang jerawatan. Kalau kau tinggal sebentar buat cari pacar, pasti bisa.

Paling banter jerawatnya bertambah sedikit. Tidak akan mati.”

 

 

 

“Bukan itu masalahnya, Bu.”

 

“Lho justru itu! Pasti! Kamu ini tidak punya waktu buat keluar dari kamar praktek.

Tidak sempat bergaul. Kenalan!”

 

“Ya, ya…”

 

“Ya, ya, ya apanya? Kamu musti meluangkan waktu. Ikut Ibu arisan atau kumpul-

kumpul sama keluarga besar kita. I bu yakin, tante-tante dan oom-oom yang datang di

sana pasti punya simpanan bagus buat kamu.”

 

“Bu!”

 

“Sudah, mengaku saja kalau kamu tidak bisa dan tidak sempat cari pasangan sendiri.

Biar Ibu yang cari.”

 

“Kalau nggak cocok bagaimana?”

 

“Pasti cocok! Masak Ibu bisa salah pilih pasangan buat anaknya sendiri.

 

“Tapi kalau memang nggak sreg, mana bisa dipaksa, Bu?”

 

“Sreg tidak sreg, cocok tidak cocok, semua tergantung kamu sendiri. Hatimu sendiri

yang mengatur itu. Percaya sama Ibu. Semua itu diatur dari niatmu sendiri!”

 

“Tapi rasanya pasti susah, Bu.”

 

“Kamu memang keras kepala. Sekali-kali turuti permintaan Ibu, apa salahnya? I bu

tidak minta macam-macam. Ibu itu cuma minta kamu dapat pasangan. Kawin. Punya

suami. Ibu cuma ingin lihat kamu bahagia. Itu saja. Apa susahnya, sih?”

 

2002

 

“Tante Niek sudah punya cucu lagi. Jadi empat sekarang..”

 

“Aduh, ramainya!”

 

“Bukan ramai, senang! Meriah.”

 

“…”

 

“Ibu juga kepingin punya cucu.”

 

“…”

 

“Umurmu sudah berapa? Mau tunggu kapan lagi? Nanti kebablasan, menyesal kamu.”

 

“Nantilah, Bu. Kalau semuanya sudah beres.”

 

“Oh, tidak akan beres sampai kapan pun. Anak itu bagusnya datang sekarang-sekarang.

Mumpung kamu dan suamimu itu masih muda. Kalau ketuaan, kamu sendiri yang

repot.”

 

 

 

“Nantilah…”

 

“Gusti…. Kamu ini maunya apa sih? Bikin Ibu mati tua tanpa cucu? Tega betul kamu!

Ibu tidak minta dibikinkan rumah mewah, jalan-jalan ke luar negeri apalagi berlian.

Tidak! Ibu cuma minta cucu. Cucu saja. Mumpung masih dikasih umur sama Yang Di

Atas, cepat aku dikasih cucu! Apa susahnya, sih?”

 

“…”

 

2006

 

“Jadi kapan cucuku bertambah jadi dua?”

 

“…”

 

“Tahun depan?”

 

“…”

 

“Kalau sepasang kan lucu sekali. Sudah pas! Bagus!”

 

“Mungkin tidak akan ada cucu kedua, Bu.”

 

“Hah? Tidak mungkin? Cuma mau punya satu anak?”

 

“Ya.”

 

“Lho, nanti aku kesepian. Kau juga kesepian!”

 

“Tidak apa-apa, Bu.”

 

“Lho, ya jelas apa-apa! Jangan buru-buru memutuskan! Sudah rapat sama suami,

belum?”

 

“Sudah.”

 

“Dia setuju?”

 

“Tak perlu ditanyakan, Bu.”

 

“Kamu itu memang keterlaluan!”

 

“Dia, Bu. Bukan aku.”

 

“Jangan putuskan apa-apa sebelum dia setuju!”

 

“Dia tak akan ambil pusing, Bu. Sudah sebulan ini dia tak pulang.”

 

“Tidak pulang? Tugas luar?”

 

“Ya, tugas di rumah perempuan lain. Buka cabang baru.”

 

“Aduh, Gusti!”

 

“Tidak apa-apa, Bu. Kami akan pisah baik-baik. “

 

“Jangan! Jangan pisah! Itu sakit musiman laki-laki. Biasa! Bapakmu begitu juga. Pakde

Mursid, Paklikmu, Herry… hampir semua laki-laki di dunia suka main sana-sini. Itu

biasa. Biasa sekali!”

 

“Maksud Ibu, aku harus tetap bertahan dengan kesukaannya main sana-sini itu?”

 

“Ya! Karena di situlah letak kekuatanmu sebagai istri! Kamu musti belajar menderita.

Belajar bertahan! Kuat! Lihat, Ibumu ini. Kuat! Ibu bisa. Bapak boleh ke mana-mana,

Ibu tetap di sini.…”

 

“Tapi Bapak tidak pernah kembali.”

 

“Itu bukan urusan Ibu. Yang penting Ibu di sini. Terus di sini. Bersama kamu dan adik-

adikmu.”

 

“Tapi aku bukan Ibu.”

 

“Tapi kamu musti seperti aku. Mesti.”

 

“Aku tidak bisa, Bu. “

 

“Kuat sampai tua. Sampai mati.”

 

“Bu…”

 

“Kamu harus bisa. Ini bukan buat Ibu. Ini buat kebaikan kamu sendiri. Tidak baik

melepaskan diri dari suami. Aib itu.”

 

“…”

 

“Ibumu tidak minta macam-macam. Ibu cuma ingin kamu bertahan. Demi Ibu. Kau ini

anak Ibu. Kau pasti tidak ingin ibu jadi sedih dan malu karena keputusanmu itu, kan?

Sudah, cuma itu. Ibu ndak minta macam-macam… Apa susahnya? Apa?”

 

“…”

 

Pustaka Jaya, 2006

http://goesprih.blogspot.com/2010/01/anak-ibu-reda-gaudiamo.

 

 

——————————

 

Problems: demokrasi, kebebasan, otoriter dan ketidak adilan.

 

Stereotype bahwa ibu selalu benar, dan bercerai adalah aib.

 

“Ya! Karena di situlah letak kekuatanmu sebagai istri! Kamu musti belajar menderita.

Belajar bertahan! Kuat! Lihat, Ibumu ini. Kuat! Ibu bisa. Bapak boleh ke mana-mana,

Ibu tetap di sini.…”

(stereotype dan otoriter)