Anak Ibu

Leave a comment

sebuah Cerpen Reda Gaudiamo

——-

1978

“Berapa?”

 

“Lima setengah.”

 

“Lima?”

 

“Lima setengah, Bu.”

 

“Lima setengah ya lima!”

 

“Tapi bisa jadi enam, Bu.”

 

“Siapa bilang? Kalau lima koma delapan atau sembilan bisa dibulatkan ke atas. Tapi

lima setengah, tetap lima! Lima!”

 

“…”

 

“Ulangan yang lalu, empat. Sekarang lima setengah. Berapa angka matematikamu di

raport nanti? Mengkhawatirkan sekali ini!”

 

“…”

 

“Ibu sedih. Karena Ibu tahu, sebetulnya kamu bisa dapat lebih dari ini. Delapan,

sembilan, juga bisa! Masalahnya cuma satu: kamu malas belajar. Kalau tidak dikejar-

kejar, dimarahi, tidak belajar!”

 

“…”

 

 

 

“Jaman sekolah dulu, nilai berhitung Ibu tidak pernah kurang dari delapan. Ibu tidak

minta kamu dapat delapan. Tujuh saja sudah cukup. Tidak lebih. Ini buat kebaikan

kamu! Heran, apa susahnya dapat tujuh? Apa?”

 

“…”

 

1983

 

“Aku mau masuk bahasa, Bu.”

 

“Bahasa? Bahasa apa?”

 

“Jurusan Bahasa.”

 

“Ooh, itu. Lho, bagusnya kan IPA?”

 

“Ibu Kepala Sekolah bilang aku lebih cocok masuk bahasa.”

 

“Dia bilang begitu? Ah, tahu apa dia tentang kamu.”

 

“Tapi itu cocok sama hasil tes IQ, Bu.”

 

“Ah, tes IQ kan buatan manusia. Tidak mutlak benar hasilnya! Aku, ibumu, tahu sekali

kalau kamu sangat berbakat untuk IPA. Kamu kan suka percobaan kimia, membedah

kodok, burung dara… Kamu bisa jadi dokter, insinyur, dokter hewan, semuanya!”

 

“Tapi, Bu…”

 

“Nanti Ibu ketemu Kepala Sekolahmu. Ibu akan bilang kalau kamu bisa masuk IPA.”

 

“Tapi …”

 

“Jurusan bahasa tidak jelek. Tapi tidak masuk hitungan. Sayang otakmu yang bagus.

Tersia-sia nanti dengan pelajaran yang remeh-remeh. Usaha sedikit saja kamu pasti

bisa! Besok kita datang menghadap. Kamu masuk IPA.”

 

“Bu, tapi …”

 

“Tidak ada tapi-tapian. Ibu yakin kamu bisa. Kamu cuma malas. Terlalu banyak main,

mengobrol tak berguna di telepon!”

 

“…”

 

“Ibu tidak minta macam-macam. Ibu cuma ingin di rumah kita nanti ada dokter. Kamu.

Itu saja. Heran, apa susahnya masuk IPA? Apa?”

 

“…”

 

1994

 

“Bu, aku akan buka klinik bersama teman-teman!”

 

 

 

“Puji syukur!”

 

“Ibu jadi penasehatnya, ya?”

 

“Tentu! Kapan? Di mana klinikmu buka?”

 

“Nanti, Bu. Masih lama. Mungkin akhir tahun baru jadi.”

 

“Ooh, praktek bersama? Mungkin bisa di rumah kita. Pakai paviliun samping saja!”

 

“Kami tidak mau di rumah, Bu.”

 

“Lalu, di mana? Gedung perkantoran? Bagus juga itu! Bergengsi sekali!”

 

“Tidak juga.”

 

“Di mana? Di mana?”

 

“Di perkampungan nelayan. Tempat aku dulu kerja praktek.”

 

“Tobat!”

 

“Kenapa, Bu?”

 

“Jadi bukan klinik spesialis?”

 

“Klinik spesialis juga.”

 

“Tapi di…”

 

“Ya di kampung nelayan itu. Kenapa, Bu?”

 

“Tobat! Tobat!”

 

“Ibu tidak setuju?”

 

“Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau mendarat di kampung nelayan? Kapan kayanya

kamu?”

 

“Kaya?”

 

“Ya, kaya. Banyak duit! Hidup senang! Seperti Pakde-mu itu! Dokter spesialis kulit,

langganannya ibu-ibu cantik dan kuaya ruaya!”

 

“Aku tidak suka yang model begitu, Bu.”

 

“Kamu itu kenapa ya, kok bisa-bisanya mirip dengan bapakmu yang sok sosial itu.

Begitu sial betulan, teriak-teriak. Minta tolong sama Ibu!”

 

“Dulu, Ibu bilang di rumah ini harus ada dokter. Sekarang aku sudah jadi dokter, mau

mengabdikan ilmu, Ibu larang…”

 

 

 

“Pintar omong kamu. Kalau tahu bakal selancar ini omonganmu, lebih baik aku biarkan

kamu di rumah. Buta huruf. Tidak usah sekolah. Tidak usah jadi dokter. Buang uang.

Buang waktu. Percuma.”

 

“…”

 

“Ibu tahu kamu sudah besar, mau mengatur hidup sendiri. Tapi kamu musti percaya

sama Ibu. Aku ini tahu apa yang kamu perlukan. Dan yang kamu perlukan bukan buka

klinik di kampung nelayan!”

 

“…”

 

“Ibu hanya ingin kamu bahagia.”

 

“…”

 

“Supaya bahagia, dengarkan ibu. Kamu kan tahu Ibu tidak minta macam-macam. Ibu

cuma tidak ingin kamu praktek di kampung itu. Sayang betul, sudah sekolah mahal-

mahal, lama-lama, eh ternyata cuma buat mengobati orang-orang yang tidak bisa

bayar kamu. Sayang! Bukalah praktek yang normal, yang beres, yang menghasilkan.

Seperti dokter-dokter lain itu, lho. Sudah. Tidak macam-macam. Apa susahnya? Tidak

ada! Malah bisa bahagia kamu nanti! Banyak uang!”

 

1999

 

“Anaknya Bu Sis kawin minggu depan.”

 

“Anak yang mana lagi?”

 

“Yang paling kecil!”

 

“Si Sri?”

 

“Ya.”

 

“Ampun! Umurnya paling baru berapa…”

 

“Eh, jangan ampun-ampun! Umurmu sendiri, berapa? Tahun ini sudah tiga puluh. Yani,

anaknya Bu Sis yang paling besar, yang setahun lebih muda dari kamu, sudah tiga

anaknya. Kamu? Punya pacar saja belum!”

 

“Nantilah, Bu.”

 

“Nanti kapan? Tiap kali ditanya, nanti-nanti-nanti. Mau tunggu ibumu ini bersatu

dengan tanah?”

 

“Ibu!”

 

“Ibu capek menunggu kamu yang keasyikan kerja! Pasienmu itu kan cuma perempuan-

perempuan yang jerawatan. Kalau kau tinggal sebentar buat cari pacar, pasti bisa.

Paling banter jerawatnya bertambah sedikit. Tidak akan mati.”

 

 

 

“Bukan itu masalahnya, Bu.”

 

“Lho justru itu! Pasti! Kamu ini tidak punya waktu buat keluar dari kamar praktek.

Tidak sempat bergaul. Kenalan!”

 

“Ya, ya…”

 

“Ya, ya, ya apanya? Kamu musti meluangkan waktu. Ikut Ibu arisan atau kumpul-

kumpul sama keluarga besar kita. I bu yakin, tante-tante dan oom-oom yang datang di

sana pasti punya simpanan bagus buat kamu.”

 

“Bu!”

 

“Sudah, mengaku saja kalau kamu tidak bisa dan tidak sempat cari pasangan sendiri.

Biar Ibu yang cari.”

 

“Kalau nggak cocok bagaimana?”

 

“Pasti cocok! Masak Ibu bisa salah pilih pasangan buat anaknya sendiri.

 

“Tapi kalau memang nggak sreg, mana bisa dipaksa, Bu?”

 

“Sreg tidak sreg, cocok tidak cocok, semua tergantung kamu sendiri. Hatimu sendiri

yang mengatur itu. Percaya sama Ibu. Semua itu diatur dari niatmu sendiri!”

 

“Tapi rasanya pasti susah, Bu.”

 

“Kamu memang keras kepala. Sekali-kali turuti permintaan Ibu, apa salahnya? I bu

tidak minta macam-macam. Ibu itu cuma minta kamu dapat pasangan. Kawin. Punya

suami. Ibu cuma ingin lihat kamu bahagia. Itu saja. Apa susahnya, sih?”

 

2002

 

“Tante Niek sudah punya cucu lagi. Jadi empat sekarang..”

 

“Aduh, ramainya!”

 

“Bukan ramai, senang! Meriah.”

 

“…”

 

“Ibu juga kepingin punya cucu.”

 

“…”

 

“Umurmu sudah berapa? Mau tunggu kapan lagi? Nanti kebablasan, menyesal kamu.”

 

“Nantilah, Bu. Kalau semuanya sudah beres.”

 

“Oh, tidak akan beres sampai kapan pun. Anak itu bagusnya datang sekarang-sekarang.

Mumpung kamu dan suamimu itu masih muda. Kalau ketuaan, kamu sendiri yang

repot.”

 

 

 

“Nantilah…”

 

“Gusti…. Kamu ini maunya apa sih? Bikin Ibu mati tua tanpa cucu? Tega betul kamu!

Ibu tidak minta dibikinkan rumah mewah, jalan-jalan ke luar negeri apalagi berlian.

Tidak! Ibu cuma minta cucu. Cucu saja. Mumpung masih dikasih umur sama Yang Di

Atas, cepat aku dikasih cucu! Apa susahnya, sih?”

 

“…”

 

2006

 

“Jadi kapan cucuku bertambah jadi dua?”

 

“…”

 

“Tahun depan?”

 

“…”

 

“Kalau sepasang kan lucu sekali. Sudah pas! Bagus!”

 

“Mungkin tidak akan ada cucu kedua, Bu.”

 

“Hah? Tidak mungkin? Cuma mau punya satu anak?”

 

“Ya.”

 

“Lho, nanti aku kesepian. Kau juga kesepian!”

 

“Tidak apa-apa, Bu.”

 

“Lho, ya jelas apa-apa! Jangan buru-buru memutuskan! Sudah rapat sama suami,

belum?”

 

“Sudah.”

 

“Dia setuju?”

 

“Tak perlu ditanyakan, Bu.”

 

“Kamu itu memang keterlaluan!”

 

“Dia, Bu. Bukan aku.”

 

“Jangan putuskan apa-apa sebelum dia setuju!”

 

“Dia tak akan ambil pusing, Bu. Sudah sebulan ini dia tak pulang.”

 

“Tidak pulang? Tugas luar?”

 

“Ya, tugas di rumah perempuan lain. Buka cabang baru.”

 

“Aduh, Gusti!”

 

“Tidak apa-apa, Bu. Kami akan pisah baik-baik. “

 

“Jangan! Jangan pisah! Itu sakit musiman laki-laki. Biasa! Bapakmu begitu juga. Pakde

Mursid, Paklikmu, Herry… hampir semua laki-laki di dunia suka main sana-sini. Itu

biasa. Biasa sekali!”

 

“Maksud Ibu, aku harus tetap bertahan dengan kesukaannya main sana-sini itu?”

 

“Ya! Karena di situlah letak kekuatanmu sebagai istri! Kamu musti belajar menderita.

Belajar bertahan! Kuat! Lihat, Ibumu ini. Kuat! Ibu bisa. Bapak boleh ke mana-mana,

Ibu tetap di sini.…”

 

“Tapi Bapak tidak pernah kembali.”

 

“Itu bukan urusan Ibu. Yang penting Ibu di sini. Terus di sini. Bersama kamu dan adik-

adikmu.”

 

“Tapi aku bukan Ibu.”

 

“Tapi kamu musti seperti aku. Mesti.”

 

“Aku tidak bisa, Bu. “

 

“Kuat sampai tua. Sampai mati.”

 

“Bu…”

 

“Kamu harus bisa. Ini bukan buat Ibu. Ini buat kebaikan kamu sendiri. Tidak baik

melepaskan diri dari suami. Aib itu.”

 

“…”

 

“Ibumu tidak minta macam-macam. Ibu cuma ingin kamu bertahan. Demi Ibu. Kau ini

anak Ibu. Kau pasti tidak ingin ibu jadi sedih dan malu karena keputusanmu itu, kan?

Sudah, cuma itu. Ibu ndak minta macam-macam… Apa susahnya? Apa?”

 

“…”

 

Pustaka Jaya, 2006

http://goesprih.blogspot.com/2010/01/anak-ibu-reda-gaudiamo.

 

 

——————————

 

Problems: demokrasi, kebebasan, otoriter dan ketidak adilan.

 

Stereotype bahwa ibu selalu benar, dan bercerai adalah aib.

 

“Ya! Karena di situlah letak kekuatanmu sebagai istri! Kamu musti belajar menderita.

Belajar bertahan! Kuat! Lihat, Ibumu ini. Kuat! Ibu bisa. Bapak boleh ke mana-mana,

Ibu tetap di sini.…”

(stereotype dan otoriter)

 

 

Pelanggaran Moral Guru, Adakah Berdampak Bagi Siswa?

Leave a comment

PENDAHULUAN

Latar Belakang masalah

Guru adalah pihak yang paling berperan dalam dunia pendidikan, karena  gurulah fasilitator sekolah-sekolah dalam mendidik para siswa agar tumbuh menjadi generasi-generasi terdidik penerus bangsa. Guru adalah agen perubahan dan pembaharuan. Dari tangan seorang guru lahirlah para cendikia muda, kaum intelektual dan para pemimpin yang membuat perubahan di Indonesia maupun di dunia. Semua tak lepas dari peran mulia seorang guru.

Seorang guru sejati tidak hanya memiliki keprofesionalan dalam bidang belajar mengajar tetapi juga harus memiliki moral dan kepribadian yang baik. Karena guru akan menjadi tauladan dan panutan bagi muridnya. Mulyasa (2007) menyatakan bahwa sebagai tauladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang di sekitar lingkungan yang mengakuinya sebagai guru. Lalu, bagaimana dengan para guru di Indonesia? Sudahkah memiliki moral dan kepribadian baik yang layak dicontoh muridnya?

Kini hal yang memprihatinkan adalah kian maraknya kasus pelanggaran moral yang dilakukan oleh oknum guru. Dari beberapa blog guru, penulis mendapatkan data beberapa kasus pelanggaran moral guru. Beberapa kasus tersebut seperti kasus manipulasi nilai yang terjadi di sejumlah sekolah di Makassar pada tahun 2009 lalu. Pemalsuan nilai dilakukan agar siswa lulus dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru jalur khusus di Universitas Hasanuddin. Ditambah lagi kecurangan pada saat uji portofolio sertifikasi guru, yang dilakukan oleh 3% persen dari 200.000 total guru yang mengikuti seleksi itu. Juga kasus pelecehan seksual oleh oknum guru olahraga ataupun kasus-kasus guru yang selingkuh di sejumlah daerah di Jawa Timur. Jika selama ini pelanggaran moral kerap kali dilakukan oleh pelajar, ini malah oleh para pengajar, Hal itu cukup mencoreng citra dunia pendidikan di Indonesia. Karena  akan berdampak pada rusaknya pandangan masyarakat terhadap sosok guru, hilangnya rasa segan, hormat serta rasa percaya kepada sosok guru.

Sebenarnya kasus-kasus pelanggaran moral yang dilakukan oleh beberapa gelintir oknum guru yang tidak bertanggung jawab itu tidaklah dapat menggambarkan keadaan dunia pendidikan di Indonesia secara menyeluruh, namun hal itu cukup dijadikan “kartu kuning” bagi kita untuk tersadar bahwa telah terjadi kemerosotan moral guru di Indonesia. Dan kemerosotan moral guru itu akan sangat berdampak pada moral peserta didik, karena perkembangan moral siswa tak lepas dari pengaruh moral guru.

Penulis merasa perlu mengangkat tema ini karena penulis merasa fenomena moral ini perlu diselesaikan dan dibenahi demi memulihkan citra pendidikan di Indonesia yang sempat tercoreng karena beberepa ulah oknum guru yang tidak bertanggung jawab.

 

PEMBAHASAN

Bertens dalam Muhammad (2008) menyatakan bahwa kata moral berasal dari kata bahasa latin mos, bentuk jamaknya mores, bahasa Inggrisnya Moral, diserap kedalam bahasa Indonesia tanpa perubahan berarti kebiasaan berbuat baik, sebagai lawan dari kebiasaan berbuat buruk. Jadi, ketika ada seseorang yang mengatakan “orang itu bermoral” artinya orang itu memiliki kebiasaan berbuat baik atau jika dikatakan “orang itu tidak bermoral” artinya orang itu tidak berbuat baik atau malah berbuat jahat atau merugikan orang lain. Jika masalah moral ini dihubungkan dan dipertanyakan kepada guru di Indonesia, sudahkah para guru memiliki moral dan kepribadian baik yang layak dicontoh muridnya?

Aspek moral tidaklah kalah penting dengan aspek-aspek lain yang harus dimiliki oleh para pengajar. Karena Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas di bidang ilmu pengetahuan saja, tetapi juga butuh generasi yang berakhlak mulia serta cinta kepada tanah air dan bangsanya. Oleh karena itu, untuk mendidik generasi berakhlak serta cinta tanah air dan bangsa maka haruslah dimulai dari pribadai gurunya terlebih dahulu. Menurut teori tabularasa (John Locke dalam Purwanto, 2007) menyatakan bahwa anak yang baru dilahirkan itu dapat diibaratkan kertas putih yang belum ditulisi (a sheet of white paper avoid of all character). Jadi, sejak lahir anak itu tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa. Anak dibentuk sekehendak pendidiknya. Di sini kekuatan ada pada pendidik. Pendidikan atau lingkungan berkuasa atas pembentukan anak. Tetapi ironisnya, akhir-akhir ini kian marak terjadi kasus-kasuh pelanggaran moral yang dilakukan oleh para pendidik. Beberapa contoh kasus pelanggaran moral guru yang penulis dapatkan datanya dari beberapa blog para guru dan media massa elektronik antara lain adalah terungkapnya kasus perselingkuhan yang dilakukan sejumlah guru di sekolah negeri di kabupaten sampan, Jawa Timur pada bulan maret 2010 lalu. Para pelaku asusila ini bukan hanya yang sudah berkeluarga, tetapi yang masih lajang pun ikut melakukannya. Parahnya lagi, dari hasil perselingkuhan tersebut ada yang menyebabkan si wanitanya hamil. Dinas Pendidikan Sampang melimpahkan kasus memalukan ini ke Inspektorat pemerintah kabupaten Sampang untuk ditindak lanjuti.

Pelanggaran moral yang juga terjadi adalah kasus kekerasan dan penganiayaan siswa baik di SD maupun di SMP yang kerap kali terjadi di beberapa daerah seperti Aceh, Pangkal pinang, Sulawesi Selatan dan beberapa daerah lain di Indonesia. Juga kasus pelecehan seksual oleh oknum guru terhadap siswinya. Sungguh memprihatinkan wajah dunia pendidikan di Indonesia jika demikian adanya. Ditambah lagi kasus pelanggaran moral yang melibatkan guru dan sekolahnya, seperti kasus manipulasi nilai siswa di sebuah SMU Negeri di Makassar, Pemalsuan nilai ini dilakukan agar siswa dapat lulus dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru jalur khusus di Univeristas Hasanuddin.

Kasus lainnya yaitu kecurangan pembocoran soal UAN yang merupakan kejahatan bersama antara guru dan kepala sekolah di sejumlah daerah Indonesia, juga kasus berbagai bentuk kecurangan yang dilakukan oleh guru ketika menjadi peserta sertifilaki profesi guru melalui uji portofolio seperi pemalsuan berkas, penjiplakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, bahkan yang paling parah adalah menyelipkan uang dalam berkas portofolio!. Kecurangan dalam seleksi sertifikasi guru ini dilakukan oleh 3% dari 200.000 total guru Indonesia yang mengikuti seleksi tersebut. Jumlah persentase yang melakukan kecurangan memang tergolong hanya sedikit dari 200.000 orang guru tersebut, namun tetaplah disesalkan karena kecurangan-kecurangan itu semestinya tidak terjadi, apalagi dalam konteks penseleksian guru professional ini, ironis sekali.

Jika kita telaah lebih jauh, kenapa kasus demi kasus pelanggaran moral guru itu dapat terjadi, maka akan ada banyak faktor yang bisa menyebabkannya, antara lain kurang siapnya guru maupun siswa secara fisik, mental, maupun emosional dalam mengajar. Juga kurangnya penanaman bekal budi pekerti di sekolah serta kurangnya kesadaran moral pada pribadi guru itu sendiri.

Dalam teori perkembangan moral menurut Kohlberg (1969 dalam Slavin 2008) bahwa tahap-tahap penalaran moral seseorang terbagi dalam tiga tingkatan yaitu:

¶  Tingkat prakonvensional. Seseorang yang berada dalam tingkat pra-konvensional menilai moralitas dari suatu tindakan berdasarkan konsekuensinya langsung. Tingkat pra-konvensional terdiri dari dua tahapan awal dalam perkembangan, tahap ke-1 yaitu orientasi hukuman dan ketaatan. Biasanya yang berada pada tahap ini adalah anak-anak, karena orientasi mereka dalam moral masih berupa ketaatan pada perintah karena takut akan hukuman yang akan didapat jika mereka tidak taat. Tahap ke-2 yaitu orientasi pada hadiah, keuntungan pribadi dan timbal balik.

¶  Tingkat konvensional, dimana individu menganut aturan dan kadang-kadang menomorduakan kebutuhan sendiri demi kebutuhan kelompok. Tingkat konvensional terdiri dari dua tahapan menengah dalam perkembangan moral, tahap ke-3 yaitu orientasi “anak baik”, berperilaku yang menyenangkan atau disetujui orang lain. Sedangkan tahap ke-4 yaitu orientasi “hukum dan keteraturan”. Pada tahap ini, pertimbangan-pertimbangan sudah didasarkan atas pemahaman aturan sosial, hukum-hukum, keadilan, dan kewajiban.

¶  Tingkat tertinggi dalam teori perkembangan moral Kohlberg ialah tingkat pasca-konvensional. Pada tingkat pasca-konvensional seseorang sudah dapat mendefinisikan nilai-nilai melalui prinsip etika yang telah mereka pilih untuk diikuti. Tingkat ini terdiri dari dua tahapan tertinggi dalam perkembangan moral, tahap ke-5 yaitu orientasi pada kontrak sosial. Pada tahap ini seseorang telah menyadari bahwa nilai-nilai dan aturan-aturan itu bersifat relative dan standarnya dapat berbeda antara satu orang dan lainnya. Sedangkan pada tahap ke-6 yang merupakan tahap tertinggi dalam perkembangan moral Kohlberg, seseorang telah memiliki kesadaran moral terhadap prinsip-prinsip dan hak-hak manusia yang universal. Pada rahap ini, apabila seseorang menghadapi konflik antara hukum dan suara hati maka ia akan mengikuti suara hatinya meskipun hal itu berisiko pada dirinya.

Merujuk kembali pada kasus-kasus pelanggaran moral yang terjadi, seperti manipulasi nilai siswa atau pembocoran soal UAN dapat dilihat bahwa moral guru pelakunya masih berada pada kisaran tahap perkembangan moral ke-2 sampai ke-4 atau malah masih pada tahap ke-1. Sebenarnya semuanya bergantung pada alasan mengapa guru tersebut melakukan pelanggaran itu. Misalnya pada kasus ini guru yang melakukan manipulasi nilai siswa dan pembocoran soal alasannya adalah karena gengsi sekolah, takut dicap sekolah yang gagal dalam belajar mengajar, maka tahap perkembangan moralnya masih berada pada tahap ke-1. Namun jika karena faktor “kerja sama yang saling menguntungkan” antara guru dan orang tua siswa maka tahap perkembangan moralnya adalah pada tahap ke-2.  Atau jika guru-guru tersebut “membantu” hal itu atas dasar kesadaran dan keinginannya sendiri karena merasa kewajiban sebagai seorang guru yang ingin muridnya sukses (meskipun dengan cara yang keliru ini) maka ini sudah masuk pada tahap ke-4.  Padahal hal-hal tersebut tidak mesti dilakukan oleh guru karena kewajiban seorang guru adalah sebagai fasilitator siswa dalam proses menimba ilmu juga mendidik moral dan budi pekerti siswa. Jika guru “membantu” siswanya sukses dengan cara memanipulasi nilai atau memberi bocoran soal UAN itu jelas mengajarkan siswa pada kecurangan, guru mendidik siswa untuk bisa meraih kesuksesan dengan cara apapun, cara haram sekalipun. Dengan kata lain ini bukan mendidik siswa untuk menjadi generasi cerdas tetapi pembodohan yang mengajarkan kecurangan. Demikian juga untuk kasus-kasus lain seperti kasus asusila yang dilakukan oknum guru atau kasus kecurangan dalam mengikuti seleksi sertifikasi guru, hal itu juga akan memberikan contoh buruk pada siswanya, karena guru adalah sosok yang digugu dan ditiru bukan?  Jika hal ini tidak segera dibenahi maka akan lahirlah generasi-generasi yang bermoral rendah dan terbiasa dengan kecurangan dari tangan-tangan guru yang tidak bertanggung jawab itu.

Agar hal itu tidak terus terjadi, maka perlu adanya upaya pembenahan dan langkah pasti untuk memperbaiki kualitas moral guru di Indonesia dan memurnikan kembali wajah dunia pendidikan yang sempat tercoreng karena beberapa oknum guru yang tidak bertanggung jawab. Upaya yang bisa dilakukan antara lain penanaman bekal budi pekerti dan moral yang baik kepada para guru juga pada para calon guru (mahasiswa-mahasiswa jurusan pendidikan dan keguruan) sebagai bekal dalam mengajar, menimbulkan kesadaran bagi para guru bahwa tugas para guru itu tidak hanya mencerdaskan fisik semata namun juga akhlak dan budi pekerti, juga menumbuhkan kesadaran bahwa kesuksesan suatu sekolah dalam proses belajar mengajarnya tidak hanya diukur dari seberapa banyak prestasi akademiknya namun juga seberapa bermutu akhlak dan moral siswa yang dilahirkan dari sekolah tersebut. Jika kesadaran akan hal-hal itu telah melekat dalam benak para guru maka pelanggaran-demi pelanggaran moral dapat berkurang bahkan tidak ada lagi.

PENUTUP

Menjadi guru memang tidaklah mudah, karena guru sebagai agen perubahan dan pembaharuan memiliki tanggung jawab yang besar dalam melahirkan generasi penerus bangsa, tentunya generasi intan bukan generasi instan. Guru sejati tidak hanya mendidik dalam ruang lingkup sekolahan saja tetapi guru sejati mampu dijadikan tauladan dan panutan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Mulyasa (2007) “Guru dapat di ibaratkan pembimbing perjalanan (Journey), yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggung jawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kreativitas, moral, spiritual yang lebih dalam dan kompleks”(p.40).

Guru sejati yang diharapkan ialah yang mampu menjadi penerang dalam ketidaktahuan dan penyejuk bagi yang haus akan ilmu pengetahuan, layaknya dalam lirik lagu hymne guru “…engkau sebagai pelita dalam kegelapan, engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan, engkau patriot pahlawan bangsa…”. Oleh karena itu, moral adalah aspek yang mutlak harus dimiliki oleh para guru karena untuk mampu menjadi “pelita” dan “embun penyejuk” serta melahirkan generasi “intan” yang tidak hanya cerdas dalam intelektual tetapi juga memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik, terlebih dahulu gurunya lah yang memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik itu.

Diakui atau tidak, seorang murid pasti akan meniru apa yang dilakukan oleh gurunya, pepatah tua “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” masih berlaku hingga saat ini. Karena itu penulis menyimpulkan bahwa moral guru akan sangat berpengaruh bagi perkembangan moral para siswanya meskipun ada juga hal-hal lain yang ikut berpengaruh namun moral guru adalah salah satu yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan moral seorang siswa.

Penulis berharap kasus-kasus pelanggaran moral yang dilakukan oleh beberapa oknum guru tersebut tidak terulang lagi. Pemerintah juga perlu mengambil sikap tegas kepada oknum yang telah mencoreng wajah dunia pendidikan Indonesia, serta mengambil langkah-langkah pencegahan (preventive) agar kasus-kasus pelanggaran moral guru tidak terulang lagi, seperti menyelenggarakan seminar kesadaran moral dan budi pekerti para pendidik kepada guru-guru, atau menekankan pendidikan dan pembinaan moral dan budi pekerti para calon guru (mahasiswa jurusan pendidikan dan keguruan), agar mereka telah memiliki bekal dan kesiapan yang matang ketika terjun kedunia pendidikan. Hendaknya setiap guru dan calon guru memiliki kesadaran moral yang tinggi serta menyadari bahwa dirinya ikut bertanggung jawab atas moral peserta didiknya, karena pengaruh moral yang kuat terhadap anak ada pada pendidiknya. Baik pendidik ataupun calon pendidik haruslah mulai memperhatikan moral pribadinya sebagai orang yang berpengaruh terhadap anak bangsa, dengan demikian wajah dunia pendidikan di Indonesia dapat kembali cerah menyambut lahirnya generasi-generasi cerdas yang berakhlak dan budi pekerti yang luhur.
Referensi:

Muhammad, A.(2008).Ilmu Sosial Budaya Dasar.Bandung: PT Citra Adiya Bakti

Slavin,E.,Robert.(2008).Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik. Jakarta:PT Indeks

Purwanto, N.(2007). Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Mulyasa, E. (2007). Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Apriyanto, R. (2009, November), Kasus Pelanggaran Moral Guru. Artikel Pendidikan. Diunduh 11 Juni 2010 dari http://www.sumeks.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1147:kasus-guru-dipidana-melonjak&catid=20:nasional&Itemid=70

Hadi, S. (2009, Januari). Kasus Kekerasan Anak Meningkat. Artikel Pendidikan, Januari 2009 diunduh 11 juni 2010, dari http://ykai.net/index.php?option=com_content&view=article&id=275:kasus-kekerasan-anak-meningkat-&catid=42:sumatera-selatan&Itemid=67

Mulyani, R (2010, April). UN Rusak Moral Siswa. Artikel Pendidikan. Diunduh 9 Juni 2010, dari http://edukasi.kompasiana.com/2010/04/28/un-rusak-moral-siswa/

Basri, H. Membangun Profesionalitas Guru. Diunduh 9 Juni 2010, dari http://www.waspada.co.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=7631

Listya, D. (2009, Januari). Moral Guru dalam Sertifikasi Profesi. Arikel Pendidikan. Diunduh 9 juni 2010, dari http://manajemensekolah.teknodik.net/?p=981

Rustantiningsih (2007, Agustus). Sikap dan Perilaku Guru Profesional. Artikel Pendidikan. Diunduh 9 juni 2010, dari http://yudhim.blogspot.com/2008/01/sikap-dan-perilaku-guru-yang.html

Habnoer, S (2008, November). Pragnatisme yang Mendegrasi Moral Guru.  Artikel Pendidikan. Diunduh 9 juni 2010, dari http://sultanhabnoer.wordpress.com/2008/11/02/pragmatisme-yang-mendegradasi-moral-guru/